Jiwa Peneliti Ashif Berpadu dengan Manajemen Milenial di ATW Solar

2020-11-10

Penulis: Red

SEMARANG, suaramerdeka.com - Mahasiswa Politeknik Negeri Jember itu tampak sibuk mengatur kaca-kaca cermin. Ia mengatur agar limpasan cahaya yang terpantul senantiasa menimpa tepat di panel surya yang ia bentangkan di atap gedung kampusnya.

Tangan terampilnya tak memerlukan waktu lama untuk memastikan semua cermin memantulkan cahaya tepat di titik fokus panel itu. Sesekali ia menggeser kaca saat sinar matahari bergerak menjauhi titik fokus.

Laki-laki muda itu lalu mengukur efek dari pantulan cahaya dari reflektor terhadap serapan panas matahari pada panel surya. Ia membandingkan hasilnya dengan panel surya yang tanpa reflektor.

Hasilnya, panel menggunakan reflektor menghasilkan daya yang lebih tinggi daripada tanpa reflektor. Hanya saja, panas yang berlebihan akan mengurangi tegangan keluar pada panel surya.

“Tampaknya, sistem ini lebih tepat diterapkan di area yang luas. Butuh lahan luas untuk menggunakan reflektor,” ungkap mahasiswa tersebut di sebuah siang.

Itulah percobaan yang sedang dilakukan Ahmad Ashif Yahya atau biasa dipanggil Ashif, mahasiswa jurusan Teknik Energi Terbarukan di Politeknik Negeri Jember. Penelitian itu untuk melihat pengaruh kaca cermin terhadap panel surya. Ini dibuat Ashif untuk pembuatan skripsi berjudul “Pengaruh Reflektor terhadap Hasil Output Solar Panel”.

Skripsi itu menarik perhatian PT ATW Solar Indonesia yang sedang mencari tenaga kerja di bidang panel surya. Perusahaan yang baru saja menandatangani kerjasama dengan Politeknik Negeri Jember itu pun langsung meloloskan Ashif, ketika rekrutmen tenaga kerja dilakukan di kampus itu pada akhir 2017.

Bersamanya, ada dua temannya, yaitu Adim dan Cholis yang juga diterima. Mereka juga telah menyelesaikan skripsi dengan tema pembangkit listrik tenaga surya.

Jiwa Peneliti

Kedekatan Ashif dengan gagasan energi terbarukan bukan pada saat skripsi. Ketika duduk di bangku SMA, ia selalu bersemangat dan terpupuk perhatiannya terhadap isu-isu lingkungan lewat kegiatan-kegiatan pramuka, pecinta alam, dan karya ilmiah remaja.

Ketika masuk kuliah, ia mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kreativitas untuk menghasilkan energi alternatif.Lewat kegiatan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dan pengabdian masyarakat, Ashif mewujudkan ketertarikannya dengan menggeluti dan mengatasi persoalan energi lewat percobaan yang solutif. Untuk itulah, ia aktif di divisi penelitian kampusnya.

Setidaknya, Ashif telah terlibat dalam tiga kegiatan penting selama menjadi mahasiswa: PKM, Program Mahasiswa Wirausaha, dan kompetisi kreasi energi terbarukan. Lewat PKM, ia dan teman-temannya didanai untuk pengabdian masyarakat di Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Madura.

Akses ke pulau yang terpencil ini termasuk sulit, sehingga harga barang-barang mahal, termasuk bahan bakar. Harga gas elpiji ukuran 3 kg saja bisa dua kali lipat dari harga di Pulau Jawa.

Di Pulau Raas itu, Ashif dan kawan-kawannya membuat digester biogas,alat pengolah bahan limbah organik menjadi biogas. Ia memanfaatkan kotoran sapi, karena kebetulan pulau itu memang menjadi salah satu sentra ternak sapi Madura.

Mereka mendesaian sebuahg alat. Sebagian penduduk di tempatnya mengabdi pun dapat menikmati manfaat biogas untuk memasak dan penerangan. Setelah kembali ke kampus, Ashif ke sana lagi karena diminta penduduk pulau itu untuk kembali membuatkan mesin digester biogas.

Perjalanan waktu, Ashif mengikuti Program Mahasiswa Berusaha, dan berhasil mengolah buah sukun menjadi nugget, makanan olahan untuk lauk nasi. Beberapa waktu memasarkan makanan olahan itu, tetapi ia kemudian berhenti karena kesibukan kuliahnya.

Selain itu, juga karena munculnya sebuah tantangan baru dari Program Kreativitas Mahasiswa, yaitu mengikuti lomba pembuatan energi terbarukan.

Kali ini yang dibuat oleh Ashif dan teman-temannya adalah bioetanol, bahan bakar yang dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan kendaraan. Jika pada umumnya bioetanol dibikin dari bahan dasar tebu, kentang, singkong, atau jagung, Ashif menggunakan bahan yang berbeda. Ia memanfaatkan kulit kacang edamame untuk membuat etanol.

“Dulu kan memang di sana banyak edamame. Kulitnya kadang dibuang. Terus kita bikin itu alatnya, namanya steam explosion. Itu alat tekanan tinggi untuk memecah serat-serat kasarnya,” kata Ashif. Percobaan itu pun berhasil membuat bioetanol. “Hanya saja, memang kadar etanolnya sangat kecil,” katanya.

Berkat percobaan itulah, karya ilmiah tersebut kemudian dipertandingkan ke Politeknik Negeri Semarang dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. “Di Unair, alhamdulillah dapat juara dua,” kata Ashif bersyukur.

Berbekal pengalamannya di bidang penelitian, tak heran jika kemudian Ashif dapat dengan lancar melakukan percobaan dalam pembuatan skripsinya. Semangat dan misi untuk menghasilkan energi terbarukan, yang sudah lekat dengan benaknya, kian mempermudahmerumuskan masalah maupun fokus penelitian.

People Person

Kebiasaan Ashif dalam diskusi untuk memecahkan masalah juga menjadi bekal yang sangat berarti, termasuk ketika ia harus menghadapi dunia kerja.

“Ashif adalah people person,” kata Eduardus Pandik, atasannya di PT ATW Solar Indonesia. People person adalah seseorang yang ramah dan senang bertemu dan berbicara dengan orang-orang. Bisa juga berarti seseorang yang pandai berurusan dengan orang lain.

“Pembawaan interpersonalnya bagus. Cocok untuk manajemen orang. Itu salah satu sifat yang membuat dia mendapat tugas khusus untuk rekrutmen tenaga lapangan, mencari tukang, teknisi, sampai supervisor. Ia mudah sekali mencari orang, karena pembawaannya. Juga, dia kan ‘anak gunung’ dan suka sepedaan ke mana-mana, mudah bergaul,” lanjutnya.

Sekarang, posisi Ashif di ATW adalah sebagai Project Engineer (PE) yang lebih banyak menangani pemasangan panel surya untuk proyek skala rumahan dan juga klaster hunian.

Sebagai PE, posisi Ashif harus bisa melintasi batas-batas antara urusan teknik dan manajemen proyek,menjadi penghubung antara manajer proyek dan berbagai bidang teknis yang terkait dalam suatu proyek.

Dalam beberapa hal, ia harus bertindak sebagai penanggung jawab masalah teknis, tetapi pada sisi yang lain ia juga bertindak laiknya manajer proyek. Ia memiliki tanggung jawab untuk memastikan sebuah proyek selesai sesuai dengan rencana yang sudah diperhitungkan, sehingga ia juga harus mempersiapkan semua kegiatan yang berhubungan dengan urusan teknis dalam sebuah proyek.

Ia memiliki tanggung jawab seperti persiapan jadwal, persiapan sumber daya teknik, dan akurasi prakiraan keuangan yang terintegrasikan dengan jadwal. Ia juga harus memastikan proyek selesai sesuai dengan rencana, dan mengelola sumber daya tim proyek dengan mengembangkan pengalaman dan keahlian.

Dengan modal jiwa peneliti, Ashif dapat mempelajari dan menguasai semua urusan itu dalam waktu yang terbilang cepat. Dinamika dan sistem kerja di PT ATW Solar Indonesia telah membentuknya selama dua setengah tahun belakangan ini menjadi sosok muda yang cukup matang di pekerjaan pemasangan panel surya.

Dalam proses pematangan dirinya, ia tidak pernah alpa untuk melaksanakan kewajiban agamanya, shalat lima waktu, sehingga takik-takik kesuksesannya berjalan seiring dengan mental keimanannya yang kian tebal.

Cepat Belajar

Mulai sebagai tenaga supervisor merangkap teknisi pada pemasangan panel surya di rumah seorang mantan pejabat di Jakarta Selatan, ia dengan cepat belajar. Pengalamannya bertambah luas ketika ikut menangani proyek di PT Kalbio Global Medika, Cikarang, Jawa Barat.

“Banyak sih yang didapat, kayak persiapan material yang harus lengkap, lalu perizinan yang harus disiapkan. Masalah teknis dan cara mengondisikan orang itu seperti apa. Hal-hal seperti itu kelihatannya kalau sepele, tapi kalau tidak dikoordinasikan dengan baik, ya fatal juga ternyata,” papar Ashif.

Perizinan yang harus disiapkan, misalnya analisis keselamatan kerja, izin kerja, dan izin-izin lain yang harus dipenuhi oleh PT Kalbio sendiri. Selain itu, karena akan membawa material di jalanan, maka harus ada surat jalan dan surat tugas.

“Di luar itu, ada hal-hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan, misalnya preman-preman yang menghampiri saat bongkar muat barang,” lanjutnya.

Bekal pengetahuan yang diperoleh dari proyek sebelumnya membuat Ashif makin siap untuk menangai proyek selanjutnya. Ketika kemudian ia mendapat tanggung jawab mengerjakan pemasangan panel surya di Summarecon Bekasi dan Serpong, ia sudah siap menjalankan tugas sesuai kewenangannya secara penuh.

Kalau sebelumnya ia hanya melihat bagaimana caranya mengondisikan orang, kini Ashif telah mengaplikasikan ilmunya mengoordinasi timnya agar pekerjaan menjadi efektif dan efisien.

Meski demikian, menangani pemasangan panel surya di residensial juga memberinya pengalaman baru, terutama dalam menjalin koordinasi dengan banyak pihak. Jika di pabrik koordinasi lebih terkonsentrasi pada satu klien, di klaster hunian ia harus menghadapi beragam pihak dengan kepentingan yang berbeda-beda.

Selain dengan pengembang perumahan yang menjadi kliennya, ia juga harus berkoordinasi dengan kontraktor-kontraktor lain dan calon-calon penghuni.

“Kalau menangani residensial itu mungkin kecil-kecil, tetapi ada seribu kepala di situ, seribu orang. Sewaktu memasang misalnya, ada beberapa orang masuk, tanya ini-itu. Terus koordinasinya selain dengan developer juga kan sama kontraktor-kontraktor lain dalam pekerjaan. Jadi, misalnya pasang kabel, enggak bisa asal pasang kabel dulu, kita harus menunggu dari pekerjaan kontraktor sipil dan kontraktor elektrikal selesai, baru kita bisa pasang,” urai Ashif.

Namun, dengan bakat alamiah yang dimilikinya, Ashif dapat melakukan negosiasi dan koordinasi dengan banyak pihak sehingga kedua proyek perumahan itu dapat diselesaikan dengan sempurna sebelum tenggat waktu.

Double Glass

Pemeo ‘’pengalaman adalah guru terbaik’’ tampaknya terjadi dengan cepat pada diri Ashif, berkat perkembangan yang pesat dari perusahaan ATW dalam memasarkan produknya ke berbagai kalangan.

Makin bervariasi, makin memberi dampak pada pengalaman barunya. Kadang-kadang bahkan pengalaman itu tidak harus muncul dari proyek besar. Order pemasangan di satu dua unit rumah juga bisa memberi pengalaman yang sangat berarti bagi kepuasan jiwa penelitinya dan pematangan profesionalitasnya.

Teknologi pemasangan panel surya tanpa bingkai (frameless), misalnya, ia dapatkan ketika ada order pemasangan kanopi di sebuah rumah di Jakarta. Model ini, yang juga dikenal sebagai panel surya double glass, adalah produk inovatif yang menggunakan lapisan sel surya yang dilaminasi antara dua kaca.

Ini memungkinkan lebih banyak sinar matahari masuk. Model seperti ini sangat sesuai untuk dipakai di carport, mal, atau rumah kaca.

Terdapat perbedaan cara pemasangan dan material, antara yang dipergunakan pada atap rumah (rooftop) dan pada kanopi di rumah kliennya tersebut. Jika di atap rumah biasanya menggunakan dudukan atau mounting, maka pada kanopi tersebut dudukan tidak diperlukan. Kalau di atap rumah materialnya tidak dituntut harus antiair karena dipasang di atas genteng. Namun, pada model kanopi itu sangat mensyaratkan waterproof, tidak boleh bocor.

Material yang digunakan juga berbeda. “Material solar panel untuk kanopi ini frameless, tidak ada bingkainya, sehingga tidak diperlukan klem. Penggunaan panel yang frameless dengan model double glass, selain untuk memaksimalkan serapan energi matahari juga untuk menghindari kebocoran, membuatnya terlihat rapi dan cantik. Namun, unsur kekuatan juga tetap diutamakan,“ kata Ashif.

Manajemen Milenial

Selalu memberi pengalaman atau tantangan baru adalah ciri yang melekat pada model bisnis energi terbarukan yang diterapkan oleh PT ATW Solar Indonesia. Situasi ini membuat ATW menjadi tempat yang menarik bagi kalangan milenial untuk bekerja.

Di perusahaan ini, posisi-posisi strategis maupun pekerja lapangan hampir semuanya kalangan milenial muda berusia di bawah 30 tahun.

“Yang saya rasakan sih memang ATW ini yang bergerak kan teman-temean yang masih muda semua. Juga pola kerjanya, manajemen kerjanya pun sangat cocok dengan anak-anak muda. Jadi memang kerjaan by progress,tidak ada keterikatan waktu tertentu, yang penting kerjaan selesai, beres, bagus gitu. Terus juga, owner-nya sendiri sangat mendorong kreativitas,” kata Ashif.

Ashif merasa beruntung selalu mendapatkan ruang untuk berkembang dari pemilik perusahaan. Bahkan, kreativitas yang sifatnya hobi seringkali didorong untuk ditingkatkan agar bisa menghasilkan nilai ekonomi bagi dirinya sendiri.

“Kebetulan kemarin saya lagi suka main motor, ngulik-ngulik motor. Eh, oleh pemiliknya didorong, bahkan didanai agar jadi motor custom,” katanya. Meskipun ketika dijual nilainya hanya impas dengan biaya perbaikannya, namun semangatnya untuk meneliti dan berkreasi terus tumbuh.

“Itu yang terpenting,” kata pemuda yang hobi uji coba ini.

Baca Juga ::: ATW Solar, Wahana Menggembleng Diri Sekaligus Mempersatukan Keluarga Adim Baca juga ::: Dedikasi Cholis untuk PT ATW Solar, Panel Surya, dan Kesempurnaan Karya

Reference: https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/231514-jiwa-peneliti-ashif-berpadu-dengan-manajemen-milenial-di-atw-solar

Contact Us